Showing posts with label NTT. Show all posts
Showing posts with label NTT. Show all posts

Dec 17, 2019

Explore Kota Labuan Bajo

Sesuai janji saya pada tulisan sebelumnya, kali ini saya akan membagikan pengalaman saya mengexplore kota Labuan Bajo. Karena trip Waerebo dimulainya subuh, maka saya ambil penerbangan H-1.  Saya ambil penerbangan pagi dari Makassar dan mendarat di Bandar Udara Komodo sekitar pukul 08.40 waktu setempat. Bagaimana penampilan bandaranya? Okelah ya.. Namun sedikit kurangnya menurut saya, fasilitas tempat makan/nongkrong masih agak kurang untuk bandara internasional. Apalagi Labuan Bajo salah satu destinasi wisata yang populer. Ketika menunggu dijemput, hanya ada 1 tempat minum di dekat area kedatangan, itupun kecil.

                                       

Kemudian dijemput oleh agent tour yg akan mendampingi privat trip Waerebo dan diantar ke salah satu hotel yang sudah saya pesan sebelumnya. Penginapan ini di luar paket privat trip Waerebo. Saya sengaja memilih kamar dengan sea view. Jam masih menunjukkan pukul 10 pagi ketika kami ampai di hotel, namun petugasnya cukup ramah dan mengizinkan early check in. Bagaimana view dari kamarnya?

                

Fasilitas penginapannya standar ada air mineral kemasan, toileteries saya lupa ada atau tidak. Namun plusnya adalah tersedia balkon dan kursi serta meja kecil untuk melihat pantai di kejauhan. Sebelumnya saya sudah baca pengalaman orang lain bahwa air disana cukup berkapur. Jadi saya sudah berjaga-jaga memang bawa stok tissue basah. Selama trip di Labuan Bajo, selesai mandi saya selalu melap badan menggunakan tissue basah. Kemudian wajah, saya bilas terakhir pakai air minum. 

Jika orang mungkin akan memilih beristirahat, beda halnya dengan yang menulis cerita ini hehe.
Setelah menaruh barang ke kamar dan rapi-rapi barang sejenak, tangan langsung lincah searching2 rekomendasi wisata dalam kota. Sebelum explore, perut sudah minta diisi. Awalnya saya ingin mencoba kuliner khas Labuan Bajo, namun karena kurang banyak info yang saya temukan, akhirnya mencoba ke Medirterraneo Restaurant and Lounge. Beberapa orang di internet merekomendasikan resto ini jika ingin mencoba menu  western dengan view dan tempak lumayan oke di Labuan Bajo. Oh ya, saya baru nemu makanan khas setelah trip Wae Rebo.

Kaki sudah melangkah, kemudian teringat ini bukan kota besar yang sudah ada grab/gocar.. cari2 info di internet, ada gojek lokal..setelah instal, eh baru tau ternyata itu hanya di kota Floresnya. Akhirnya tanya info sewa motor ke tour agent (apa penjaga hotel saya lupa). Dapatlah motor sewaan dengan tarif Rp75rb/setengah hari lengkap dengan helm dan jas hujan. Tanpa berlama-lama, cus lah ke Medirterraneo dengan bekal Google Map. Sampai di tempatnya, desain tempatnya memang lumayan oke. Beberapa pengunjung lain yang sedang disana adalah orang luar semua.


Rekomendasi menu disana adalah menu western. Saya pesan menu western walaupun sebenarnya ada menu indo yang familiar juga. Namun entah kenapa menu pesanan waktu itu kurang pas di perut. Tapi tidak apalah mencoba.

Setelah selesai makan, terlebih dahulu mampir ke toko oleh-oleh yaitu Exotic Oleh-Oleh untuk membeli sandal jepit. Kebetulan sandal jepit saya ketinggalan (apa sengaja tidak dibawa ya, lupa). Kenapa tidak ke warung?  Memang ingin sekalian punya sandal khas sana (walaupun akhirnya sandal itu hanya berumur beberapa hari karena dipakai mendaki bukit depan Kampung Waerebo pagi hari). Penjelajahan dimulai ke Pantai Wae Cicu. Pantai ini terdapat di dalam kawasan sebuah hotel. Waktu searching sebelum ke Labuan Bajo, awalnya saya ingin menginap di hotel ini. Namun ada review pengunjung,  petugas kurang ramah dan cukup merepotkan angkut2 koper ke kamar yang terdapat di bagian atas, akhirnya saya mengurungkan niat. Di antai ini terdapat dermaga dan pemandangan lumayan banyak kapal yang sedang berlayar. Karena waktu sudah mendekati sunset, di pantai ini hanya sekitar 15 menit.

                  

Berdasarkan hasil googling, tempat terbaik untuk menikmati sunset di Labuan Bajo adalah di Bukit Silvia. Maka perjalanan dilanjut sekitar 10 menit dari Pantai Wae Cicu. Untuk mencapai Bukit Wae Cicu, kita masih perlu trekking sekitar 20-30 menit dari parkiran motor. Siap-siap bawa sandal atau sepatu yang memang nyaman untuk dibawa jalan ya. Jalur trekkingnya lumayanlah, itung2 untuk pemanasan sebelum trekking panjang ke Wae Rebo keesokan hari. Bagaimana view dari Bukit Silvia nya? Cantik ga? Ehhh.. bagus ga maksudnya hehe


Ternyata menikmati sunset di Bukit Silvia lumayan terkenal, buktinya selama kita disana lumayan banyak wisatawan luar yang ikut menkmati sunset disana. Selain Bukit Silvia, ada juga beberapa bukit yang saling berdekatan untuk menikmati view pantai dan sunset. Ada Bukit Teletubies dan Bukit Cinta.

Setelah menikmati view sunset di Bukit Silvia, kaki pun mulai bergegas turun menuju parkiran. Tiba-tiba ingin minum air kelapa. Searching-searching tempat tongkrongan yang lumayan oke, ketemulah Le Pirate. Nama ini tentu bagi sebagian orang sudah tidak asing karena ada penginapannya juga di beberapa kota. Di internet, banyak orang yang merekomendasikan cafe ini. Beberapa pengunjung dalam reviewnya menyatakan bahwa pelayan cafe lebih mengutamakan wisatawan luar. Namun, hal ini terpatahkan berdasarkan pengalaman saya. Pesanan saya lumayan cepat dapat (saya tidak ada tampang seperti wisatawan luar kan ya hehe).  Oh ya, selama kurang lebih 2jam berada di Cafe Le Pirate, pengunjungnya semua adalah wisatawan luar negeri dong. Menu ya menu internasional lah ya pastinya.

                                      

Setelah selesai nongkrong di Le Pirate, perjalanan di lanjut ke Dermaga Kampung Ujung. Menurut mbah google, disana tempat wisata kuliner. Jadi harapan saya juga akan menemukan air kelapa. Entah kenapa dari siangnya saya pengen air kelapa, namun tidak ketemu karena sudah pada tutup.

                  

Fyi, Dermaga Kampung Ujung pada siang hari menjadi tempat bertemunya tour/travel dengan wisatawan yang akan ikut trip atau nama ngetren nya adalah meeting point. Sedangkan pada malam hari tempat ini akan berubah menjadi kawasan kuliner seafood.

Waktu sudah mendekati tengah malam, explore untuk dalam kota hari pertama harus diakhiri. Berhubung besok subuh trip Wae Rebo sudah dimulai.

Oh ya sebagai tips bagi yang ingin ke Labuan Bajo, sedia stok tissue basah karena air cukup berkapur dan sun block karena cuaca yang lumayan menyengat. Beberapan tempat juga menyediakan persewaan motor Rp100-150rb/hari. Semoga liburannya menyenangkan..

Jul 14, 2019

Sailing Komodo: Enjoy the Beauty of Indonesia

Setelah sebelumnya saya membagikan Trip Waerebo, kali ini saya akan membagikan pengalaman trip Sailing Komodo. Ceritanya, saya sudah dari 2 tahun yang lalu ingin ke Labuan Bajo (jauh sebelum kejadian kebakaran Pulau Gili Lawa).  Keinginan kesana beberapa kali batal karena jadwal penerbangan yang bisa dikatakan “kurang pas” (nasib penempatan di kota kecil dengan sedikit pilihan penerbangan) dan butuh hari libur yang banyak karena saya ingin sekaligus ambil trip Waerebo dan Sailing Komodo

Jika Waerebo saya ikut privat trip, berbeda dengan Sailing Komodo saya ikut open trip dengan travel yang berbeda (kebetulan jadwal trip pas dan jumlah minimum peserta terpenuhi). Apa beda privat trip dan open trip? sudah ada di tulisan saya sebelumnya hehe. Sebenarnya ada beberapa travel yang menawarkan Trip Waerebo+Sailing Komodo sekaligus, namun ketika saya cari tidak menemukan travel dengan jadwal dan fasilitas sesuai keinginan.  Biaya Open trip Sailing Komodo 3 Day 2 Night yang saya ikuti adalah 2,5jt (biayanya sama dengan biaya ketika saya ikut privat trip Waerebo). Harga ini di luar tip untuk guide dan sewa kapal 1,5jt jika kita ingin dijemput kapal kembali ke bandara mendahului rombonga (mahal??..ya begitulah memang wisata di negara kita. Kalau dihitung cost transport, biaya trip, penginapan h-1 ya sudah bisa menjelajah ke luar Asia. Tapi ya kembali lagi ke Preference masing-masing orang lebih milih kemana). 

Sailing Komodo 3D2N itu bagaimana maksudnya? Sesuai dengan sebutannya, kita akan berlayar mengunjungi tempat-tempat wisata di sekitar Pulau Komodo dengan menggunakan kapal. Kita akan makan dan menginap di kapal selama 3 hari 2 malam. Kita hanya akan turun ke darat jika sedang mengunjungi tempat wisata. Jadi, bagi yang mabuk laut sangat tidak disarankan karena kita akan merasakan gelombang laut selama 3 hari. Bisa jadi tidak terlalu terasa gelombang lautnya, namun bisa jadi sangat terasa (seperti perjalanan menuju Pulau Padar).

Trip dimulai dengan penjemputan dari penginapan ke Dermaga Kampung Ujung. Saya sudah di Labuan Bajo sehari sebelum trip di mulai. Seluruh peserta akan dijemput dari bandara atau penginapan lalu berkumpul di Dermaga Kampung UjungKami ada 7 orang dalam 1 rombongan. Dermaga ini dari pagi sampai siang hari menjadi meeting point wisatawan yang akan menyeberang, namun sore sampai malam akan berubah menjadi kawasan wisata kuliner seafood.

Beberapa peserta dan kru travel
Dermaga Kampung Ujung
Setelah kapal mulai berlayar meninggalkan dermaga, peserta langsung disuguhi jus sebagai welcome drink. Inilah penampilan rombongan kami.
Seluruh peserta rombongan kami
Perjalanan pertama adalah mengunjungi Pulau Kelor. Pasti sudah sering dengar ungkapan “dunia tidak selebar daun kelor” ya. Seperti yang kita tau bahwa daun kelor tidak lebar, begitu juga pulaunya, tidak terlalu besar.
Pulau Kelor
Kita trekking sekitar 15 menit untuk sampai ke puncak Pulau Kelor dan bisa berfoto dengan view yang luar biasa indahnya. Biasanya jalur trekking macet akibat banyaknya pengunjung yang antri buat berfoto. Waktu tempuh trekking yang sebenarnya cukup 15 menit, namun untuk dapat kesempatan berfoto bisa sampai 1 jam.

Setelah lelah bermacet-macet ria, this is it. Pemandangan dari puncak Pulau Kelor. Walaupun sudah sering melihat pantai, namun kombinasi biru laut dan hijaunya gunung serta putihnya pasir disini tetap membuat saya berdecak kagum. Setiap tempat memang memiliki keindahan sendiri. Kita susah membandingkan tempat ini lebih bagus dari tempat itu.

View dari Puncak Pulau Daun Kelor
Setelah turun trekking, di Pulau kelor juga kita dapat menikmati pantai dengan bermain pasir, berenang atau sekedar menikmati pemandangan.

Setelah puas menikmati Pulau Kelor, perjalanan dilanjut ke Pulau Pempe dan Pulau Manjarite. Ditengah perjalanan, kami menyantap makan siang yang sudah disiapkan travel.  Ada yang mau makan siang dengan view seperti ini?
Pemandangan pantai di Pulau Pempe menurut saya biasa saja. Saya lebih tertarik dengan tebing-tebing di Pulau ini. Nah ada sedikit cerita, teman saya di foto adalah kenalan ketika di Desa Waerebo (yang saya sampaikan backpacker-an bareng suaminya pada artikel trip Waerebo). Kebetulan di trip Sailing ini kami satu travel agent tapi beda rombongan. Inilah salah satu nilai plus kalau kita ikut trip, bisa menambah kenalan baru.
Pulau Pempe with Mba Ulfa
Di Pulau Manjarite wisatawan biasa akan snorkeling, namun kemarin saya tidak ikut turun. Saya hanya menunggu di kapal karena sedang halangan (biasa, wanita). Setelah peserta lain selesai snorkeling, kami disuguhi snack sore. Semua makanan dan snack ciki2 sudah bagian dari fasilitas trip. So, sebelum ikut trip pastikan apakah snack sudah include dalam fasilitas agar tidak mubajir. Pengalaman kemarin, kami bawa snack masing-masing karena mengira snack yang disediakan hanya gorengan atau kue. Ternyata snack yang disediakan travel cukup banyak, sehingga sampai kembali dari pulau pun snack masih banyak tersisa. Yang jelas setiap selesai trip, angka timbangan biasa akan bergeser ke kanan. Entah kenapa selera makan selalu naik ketika traveling. Mungkin pengaruh mood dan view ya hehe
Snacking time
Perjalanan berlanjut ke Pulau Kalong. Kami sampai di pulau ini tepat menjelang sunset. Disini kita menikmati sunset beserta pemandangan kalong (kelelawar) yang baru keluar sarang untuk mencari makan. Kita sering dengar perumpamaan “mata kalong” yang menyamakan seperti kalong yang keluarnya menjelang malam. Sambil menunggu makan malam disiapkan, kami mencoba berfoto dari berbagai sudut kapal hehe
           
Sunset di Pulau Kalong
Seperti Dora the Explorer aja ya? haha

Setelah makan malam, peserta rombongan leyeh-leyeh di bagian depan kapal menikmati angin malam, suara ombak, dan pemandangan bintang. Awalnya kapal akan menginap/bersandar di pulau ini, namun kapal akhirnya bersandar di Pulau Kambing. Pulau tersebut tidak terlalu jauh dari Pulau Padar. Diperkirakan akan ada banyak pengunjung besok hari, sehingga kita harus sampai Pulau Padar lebih pagi.


Subuh sekitar setengah 5 kita mulai bangun dan bersiap untuk trekking ke Pulau Padar yang jadi salah satu ikon wisata Labuan Bajo. Kita mau melihat sunrise di Padar. Gelombang laut mendekati Pulau Padar lumayan terasa. Saya yang agak cuek, sempat agak merasa was was. Jam 5 kita mulai trekking Pulau Padar. Jalur trekking menuju Puncak Padar hanya 45 menit. Namun karena banyaknya pengunjung, menyebabkan jalur trekking macet dan antri untuk berfoto.

Sekedar info, Taman Nasional Komodo terdiri dari tiga pulau besar, yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar, serta pulau kecil lainnya. Paket trip yang saya ikuti mengunjungi 2 pulau besar tersebut, yaitu Pulau Padar dan Pulau Komodo. Sebagian besar wilayah pulau adalah savana habitat spesies komodo.

Sepanjang perjalanan dari kapal ke puncak, kita bisa melihat di beberapa bagian kiri dan kanan jalan ada bunga. Jalur trekking di Pulau Padar sudah dibuat tangga dari kayu pada beberapa bagian (tidak seluruhnya). Setelah perjuangan trekking dan antri lumayan lama, akhirnya kita disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Membuat kita akan berdecak kagum akan ciptaanNya.
Puncak Pulau Padar
Bagi yang hendak trekking ke Pulau Padar, ada beberapa tips: pertama kalau bisa sepagi mungkin agar tidak panas dan pengunjung belum terlalu banyak; kedua jangan lupa mengoleskan sunblock dan memakai topi serta alas kaki yang nyaman; ketiga sebaiknya menggunakan baju lengan panjang/selendang sebagai luaran (yang bisa tinggal dibuka jika ingin foto seksoi di Puncak Pulau Padar) karena ketika kita turun, matahari cukup menyengat; keempat siapkan stamina dan membawa air mineral karena akan menahan panas berjam-jam; dan kelima ketika hendak berfoto sebaiknya sudah siap baik kostum, topi, kacamata hitam dan ide pose karena banyaknya antrian akan membuat tidak nyaman untuk mencoba berbagai pose. Semoga menikmati trekking yang nyaman dan dapat foto yang epic!
View Long Beach
Feel free..
hempas haha
Saatnya kita kembali ke kapal, saatnya mengisi kembali stamina yang sudah terkuras..sarapan sudah menanti. Setelah stamina sudah kembali terisi, saatnya kita melanjutkan perjalanan ke Long Beach. Informasi dari guide, pantai ini hampir sama dengan Pink Beach. Saya cukup penasaran dengan pantai ini. Bagaimana mungkin pasir bisa berwarna pink?  Mari kita buktikan benarkah demikian.

Semua foto disini adalah hasil dari HP sendiri yak hehe. Ternyata benar, pasirnya kelihatan pink ya saudara-saudara haha. Damai sekali melihat pemandangannyaa..feel  free


Berdasarkan penjelasan guide, warna pink ini berasal dari karang merah yang hidup dan tumbuh di lautan dan kemudian terkikis oleh derasnya air laut. Hasil kikisan ini menjadi serpihan dan bercampur dengan pasir pantai. Hal ini menjadikan warna pasir berubah menjadi warna merah muda/pink. Warna pink akan terlihat semakin jelas setiap kali pasir tersapu air laut.

Di pantai Long Beach juga terhampar pemandangan rumput yang cukup kece untuk dijadikan background sesi pemotretan hehe. Guide menawarkan untuk mengambil gambar, dengan senang hati saya langsung berpose hehe. Walaupun posenya akhirnya diarahkan guide. Maklum, bukan orang yang fotogenik.
Perjalanan kita lanjut ke destinasi berikutnya, yaitu Pulau Namong dan Pulau Komodo. Nah, ini membuat saya agak galau sendiri. Pernah baca kalau komodo itu sangat tajam penciumannya terhadap darah dan menarik mereka untuk memangsa. As i told, I have my period. Membayangkannya membuat saya agak bergidik. Namun saya merasa sayang sudah jauh-jauh namun tidak melihat spesies langka ini. Akhirnya saya sampaikan dengan sedikit malu kepada guide kami. Puji Tuhan, katanya sudah pernah membawa wisatawan dengan kondisi yang sama dan aman ketika bertemu komodo. Yang penting saya dititip dan dijaga khusus satu orang guide lokal Pulau Komodo katanya. Baiklah..saya pun lega. Inilah salah satu pentingnya guide jika kita mengeksplor tempat yang belum terlalu kita tau medannya. Daripada bingung sendiri, lebih baik disampaikan ke guide, pasti ada solusi.
               
Rombongan kami with 
spesies langka, penghuni 
Pulau Komodo hehe

Begitu turun dari kapal dan melewati gerbang, kita langsung melihat kambing-kambing di pinggir pantai. Kambing kan takut air, ngapain disana? Kambing ini adalah santapan bagi spesies komodo.


Kalau kata guide, komodo adalah binatang yang suka kamuflase. Lihat saja posenya seakan sedang bermalas-malasan dan tiduran begitu. Padahal itu juga bisa saja berpura-pura dan sudah siap untuk menerkam mangsa.

Di Pulau Komodo, wisatawan bisa menikmati air kelapa sambil menikmati pemandangan laut dari pinggir pantai. Setelah puas menikmati pulau, kita kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Pink alias Pink Beach. Namun kita hanya mampir sebentar disana karena memang pantainya hampir sama dengan Long Beach.

Destinasi untuk hari ini sudah selesai, kita kembali ke kapal untuk mandi, menyantap makan dan snack malam, serta beristirahat. Makan terus. Yess

Keesokan paginya kita lanjut ke Taka Makassar. Tapi kita isi perut dulu biar ada tenaga. Ini adalah sarapan terakhir sebelum siangnya trip berakhir. Ada yang tidak mau sarapan dengan view seperti ini? Sarapan sehat dengan view yang sehat bagi mata. Kombinasi yang pas hehe
Setelah sarapan, kita bergegas ke Pulau Taka Makassar dengan perahu kecil. Kita pindah ke kapal kecil karena Taka Makassar sangat kecil dan tidak memungkinkan kapal untuk bersandar. Pulau ini merupakan gundukan pasir putih di tengah laut. Pulau seperti ini sudah beberapa kali saya jumpai, seperti di Kepulauan Seribu dan ketika Trip Raja Ampat dulu.
 

Kok ada juice?? Ini dibawa guide dari kapal (pasangan roti, menu sarapan). Niat banget? Yes, aku juga sempat ngetawain. Eh, ternyata berguna juga sebagai properti sesi perfotoan hehe

Perjalanan kita lanjut ke destinasi berikutnya, yaitu Manta Point. Jarak kedua pulau ini hanya 10 menit. Jika 2 hari sebelumnya saya menahan diri untuk snorkeling, kali ini tidak. Saya ingin melihat Manta alias Pari besar (karena waktu trip Raja Ampat dulu gagal, mantanya tidak muncul).

Untuk bisa melihat manta, katanya perlu keberuntungan. Beberapa kali guide kami membawa wisatawan sebelumnya, namun mantanya tidak muncul. Untungnya, ketika kami kesana lumayan banyak manta yang muncul. Saya hitung ada sekitar 8-10 ekor manta. Bisa melihat dari dekat tidak gampang, kita perlu berenang cepat untuk mengikutinya. Apalagi ketika itu arus air cukup deras.
Di Manta Point, saya ga punya foto dan video sama sekali. Ko bisaa?? Awak kapal yang ikut nemenin kita snorkeling, menawarkan diri untuk bawa Go Pro eike. Saya kira sudah pengalaman, langsung ngasih kamera saja. Ternyata satu pun video tidak tersimpan, padahal sudah beberapa kali ada manta yang dekat..huhu

Manta Point adalah destinasi terakhir yang saya ikuti. Sebenarnya ada 1 destinasi lagi, yaitu Pulau Kanawa. Namun karena jadwal pesawat saya setengah 4 sore, saya harus segera bergegas ke bandara. Saya dijemput kapal sewaan. Berapa tarifnya dari Manta Point ke Dermaga Kampung Ujung? 1,5jt! Mahal? Yes, mereka sudah tidak ambil untung (katanya). Padahal kalau mengikuti rombongan tidak akan bayar lagi,karena sudah include di trip. Untungnya ada 2 wisatawan lagi dari grup lain yang ikut, lumayan bisa berbagi.

Kenapa tidak kembali bareng rombongan? Ini sebenarnya sudah saya konsultasikan dengan travel awal yang saya daftar. Mereka  menyatakan aman jika saya ambil tiket di atas jam 3 karena jadwal trip sudah berakhir di jam tersebut. Saya ambil tiket pesawat setengah 4 sore. Tetapi ternyata travel tersebut mengover saya ke travel lain yang mana jadwal tripnya belum berakhir di jam tersebut. Saya tahu hal ini setelah trip Sailing dimulai, namun saya kira penjemputan akan ditanggung travel karena ini bukan kesalahan saya. Sempat kesal, tetapi ya sudahlah. Begitulah perjalanan, harus dinikmati. Seringkali yang terjadi tidak sesuai rencana, butuh fleksibilitas dan solusi cepat. Traveling akan membuat kita belajar banyak hal.

Setelah sampai di dermaga, kami diantar ke bandara. Trip pun berakhir.

Untuk Trip dalam kota Labuan Bajo pada hari pertama disana, akan saya bahas di tulisan terpisah.

Semoga bermanfaat.


Apr 26, 2019

Wae Rebo: Dua Hari tanpa Sinyal

Ada yang pernah dengar Wae Rebo? Mungkin nama desa ini masih belum terlalu familiar di telinga wisatawan domestik. Hal ini berbeda dengan wisatawan internasional, bahkan sudah banyak yang berkunjung kesana. Memang tidak mengherankan jika kita lebih familiar dengan tempat wisata negara lain, padahal negara kita sendiri memiliki banyak tempat wisata yang bahkan belum habis kita kunjungi.  Wae Rebo salah satu negeri di atas awan, selain Lolai Toraja dan Dieng yang sudah sangat familiar. Desa ini terletak di Kabupaten Manggarai Raya atau Manggarai Tengah, Nusa Tenggara Timur. Desa ini mendapat penghargaan tertinggi untuk kategori warisan budaya Asia-Pasifik loh dari UNESCO. Keren kan.

Wae Rebo dapat ditempuh dari berbagai rute. Disini saya kebetulan lewat Labuan Bajo. Perjalanan kesana ada berbagai alternatif pilihan dengan menyesuaikan budget masing-masing. Kalau tidak  terbiasa me-arrange perjalanan, ada pilihan privat dan opentrip dimana kita terima jadi urusan rute, transportasi, akomodasi, dan dokumentasi tinggal ikut instruksi tour guide. Namun kalau mau lebih hemat, bisa backpacker. Pengalaman kesana ikut privat trip 2d 1n biaya 2,5jt/peserta, jadwal sesuai request kita. Kalau opentrip kebanyakan 1,5jt-1,7jt/peserta, kita hanya bisa ikut jadwal yang sudah ada. Backpacker kemarin kebetulan ada kenalan ketemu disana cerita hanya habis 1,4jt untuk 2 org, namun mereka naik motor  dan menginap di rumah warga. Hemat sekali kan. 

Pengalaman privat trip, perjalanan dimulai dari penjemputan dari hotel jam 5 subuh. Terlalu subuh? Ya biar kita mendakinya tidak kemalaman. Dilanjut perjalanan darat selama 6 jam ke Desa Denge, kemudian kita istirahat makan siang. Nah, ini ada tempat makan siang yang menarik di tepi sawah. Makan dengan view bagus membuat selera makan naik. Hanya saya lupa nama tempat makannya.


Tempat Makan di Pinggir Sawah (Desa Denge)

Di perjalanan Labuan Bajo ke Desa Dintor, kita akan dapat melihat Pulau Mules atau Moles yang artinya pulau cantik. Penamaan ini karena memang bentuk pulaunya seperti seorang putri yang sedang tidur dengan posisi menghadap ke langit.

Pulau Mules atau Moles

Di sepanjang perjalanan juga kita akan berpapasan dengan kendaraan penumpang lokal, yakni truk yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi kendaraan penumpang. Truk diberi papan untuk tempat duduk penumpang sekaligus pembatas. Bagian bawah papan tempat duduk akan digunakan untuk tempat bahan bangunan atau belanjaan penumpang. Sayang kemarin tidak foto.

Batas yang bisa dilalui mobil adalah sampai di Desa Denge. Kemudian dari sana perjalanan dilanjut dengan menaiki ojek sekitar 15 menit untuk sampai ke Pos 1 Pendakian Wae Rebo. Sekedar info untuk yang berencana backpacker, kemarin sempat nanya ke tuang ojek biayanya 50rb sekali jalan. Di batas pemberhentian ojek, ada penyewaan tongkat bagi yang kakinya kurang kuat. Kalau tidak salah Rp10.000. Namun tongkat ini akan dikembalikan ketika kita turun nanti.  

Di Pos 1, kita akan dapat membaca pesan masyarakat lokal Wae Rebo sebagai tips bagi  para pengunjung. Beberapa diantaranya: kelola sampah, hormati alam, lindungi satwa liar dan habitatnya, jaga keselamatan, hati-hati, berjalan, dan hormati warga lokal. Oh ya, setiap tulisan termasuk Buku Pengenalan Wae Rebo dibuat dalam 2 bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Inggris. Hal ini mengingat pengunjung sudah banyak dari mancanegara.

Pos 1. Wae Lomba

Perjalanan trekking menuju Desa Wae Rebo sejauh 7 km rata-rata dapat ditempuh dalam 2-4 jam, tergantung kecepatan pengunjung. Perjalanan trekking dimulai dari Pos 1 dengan waktu tempuh ke Pos 2 sekitar 1-1,5 jam. Selama perjalanan ini sempat minta beberapa kali berhenti istirahat, maklum bukan pendaki gunung hehe.

Rute trekking yang kita lalui ini juga adalah rute yang dilalui masyarakat desa. Jadi tidak jarang dalam perjalanan kita berpapasan dengan masyarakat asli Wae Rebo. Jalur mereka memang hanya rute tersebut. Mereka membawa belanja, hasil pertanian, dan segala macamnya dengan cara dipikul. Termasuk solar bahan bakar genset dipikul karena Wae Rebo belum dialiri listrik juga. Salut.
Saya juga terkesan dengan penduduk asli desa. Semua yang berpapasan dengan kami akan menyapa “Selamat sore,Pak,Bu..” dengan senyum. Dan bahkan tidak jarang mereka juga menanyakan “Dari mana, Pak/Bu?”

Kalau dipikir, kenapa Dana Desanya tidak digunakan untuk perlahan membangun jalan ke desa supaya bisa dilalui kendaraan ya. Namun berdasarkan keterangan guide, ternyata memang disengaja untuk menjaga keaslian Desa.

Pos 2.  Poco Roko
   
Sampai di Pos 2, seakan setengah perjalanan sudah terlewati. Di Pos 2 kita sudah bisa melihat awan di bawah kita. Dari Pos 2 ke Pos 3 kita dapat tempuh sekitar 1-2 jam. Memang sesuatu yang indah dan berharga biasa butuh perjuangan lebih iya kan. Dijawab saja iya haha.

Seperti kata pepatah, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” di Pos 3 terdapat Pesan dari Masyarakat Kampung Wae Rebo buat pengunjung yang berisi  rule atau aturan bagi pengunjung. Salah satu yang menarik adalah “bantu mendidik anak kami dengan tidak memberikan sesuatu (permen,uang, mainan, atau kue) tanpa seijin orang tua mereka.” Menurut saya ini sangat bagus untuk membentuk mental dan mengajarkan anak tidak pamrih ketika memberikan bantuan kepada wisatawan. Karena hal ini salah satu tantangan tempat wisata di Indonesia yang terkadang membuat wisatawan kurang nyaman.

  
Pos 3. Nampe Bakok (Rumah Kasih Ibu)

Jarak dari Pos 3 ke Kampung Wae Rebo hanya 5 menit. Ketika hendak melanjutkan perjalanan dari Pos 3 ke Kampung, kita terlebih dahulu membunyikan alat tabuh bamboo yang disediakan di Rumah Kasih Ibu. Hal ini sebagai penanda datangnya tamu.

Setiap pengunjung yang baru tiba di Kampung Wae Rebo, harus terlebih dahulu ke rumah Gendang untuk mengikuti Upacara penghormatan leluhur (Waelu’u). Setelah ikut upacara baru diperkenankan beraktivitas di kampung. Upacara ini dimaksudkan bahwa pengunjung sudah diperkenalkan dan telah diterima, sehingga masyarakat tidak akan lagi bertanya siapa ketika berpapasan dengan pengunjung. Upacara ini juga dimaksudkan sebagai penghormatan pengunjung bagi para leluhur Wae Rebo. Ketika upacara berlangsung, tidak diperkenankan adanya dokumentasi. Konon pernah ada kejadian wisatawan asing yang sembunyi-sembunyi mengambil dokumentasi. Setelah dicek kamera keesokan harinya, seluruh gambar dan video upacara hilang alias tidak ada hiiii.

Rumah Gendang

Setelah dari Rumah Gendang, kita akan di arahkan ke Niang/ rumah kerucut lainnya sekaligus tempat beristirahat. Disini kita akan langsung disuguhkan kopi khas Flores. Bagi yang tidak kuat minum banyak, jangan sampe ketagihan ya.

Suguhan Kopi Flores


Di niang tepat kita beristirahat, terdapat Buku Pengenalan Wae Rebo. Buku ini memuat sejarah Wae Rebo, peta kampung, bagian-bagian niang/rumah kerucut beserta kegunaan, dan hasil pertanian masyarakat Wae Rebo. Dari buku, dapat kita ketahui sejarah singkat Wae Rebo. Masyarakat Wae Rebo meyakini bahwa nenek moyang mereka bernama Empo Maro, seseorang yang berketurunan Minangkabau. Empo Maro dan keluarganya merantau mengarungi lautan dan mendarat di Labuan Bajo. Kemudian  melakukan perjalanan darat dan berpindah-pindah sampai suatu saat melihat ada kebulan asap dari arah gunung. Hal tersebut membuatnya penasaran dan mendatangi kampung tersebut. Empu Maro juga mendapat pesan melalui mimpi untuk hidup dan menghabiskan waktunya di Kampung yang sekarang kita kenal sebagai Wae Rebo, dimana sekarang keturunannya tinggal.

Di Kampung Wae Rebo, wisawatan akan tidur di satu niang. Masing-masing orang diberikan selimut, bantal dan kasur tipis yang sudah terpasang di bawah karpet masing-masing. Penasaran bentuknya? Begini tampilannya.

Tempat Tidur Pengunjung

Setiap makan pun dilakukan bersama. Hal ini membuat wisatawan semakin akrab dan sesuai dengan budaya negara kita.

Pengunjung Makan Malam Bersama

Di Wae Rebo kita menggunakan gadget/ hp palingan untuk foto. Disana tidak ada sinyal, otomatis tidak ada telepon dan internet. Karena keterbatasan sumber yang hanya menggunakan genset, kita hanya bisa charger gadget dari sore ke malam. Pagi alirannyanya sudah dimatikan. Wisatawan lebih memilih untuk saling bercengkrama, berbagi cerita, melihat keindahan dan budaya kampung. Kita tidak akan ada menemui orang yang sibuk dengan gadget sendiri.

Karena sampai di Kampung Wae Rebo sudah sore, jadi hanya sempat ambil foto malam sebelum tidur. Kebetulan bulan lagi tampak dan banyak bintang bertaburan. Menambah indah pandangan malam.

Pemandangan Wae Rebo malam hari

Setelah beristirahat, subuh biasanya wisatawan akan bangun cepat dan berburu sunrise. Begitu pagi menjelang, saatnya berburu foto. Bagaimana hasilnya? This is it.
Kampung Wae Rebo

Keren?!  Perjuangan pendakian sebelumnya terbayarkan dengan pemandangan yang menyejukkan mata ini. Kalau diliat secara keseluruhan, Kampung Wae Rebo terdiri dari 7 niang atau rumah kerucut. Orang sering menyebut kampung ini dengan Mbaru Niang.

Sekedar informasi, Desa Waerebo salah salah satu desa tertinggi di ndonesia, terletak di 1.200 mdpl loh. Jadi memang wajar cuaca disana agak dingin. Bagi yang ingin kesana jangan lupa bawa jaket dan kaos kaki ya.

Setelah puas berfoto, kemudian wisatawan akan dipanggil untuk sarapan bersama dan berkemas untuk pulang.

Jika perjalanan berangkatnya kami tempuh dalam 2 jam, perjalanan pulang lebih cepat. Record tour guide kami paling cepat turun sampai ke Pos 1 adalah 1,5 jam. Dan kali ini saya bilang kita harus  buat record baru. Ketika berangkat kami istirahat setiap 15 menit, ketika perjalanan pulang hanya istirahat 2 kali, yaitu di Pos 3 dan Pos 2. Total waktu kita istirahat sekitar 5 menit dan foto-foto 5 menit. Kita turun dengan jalan cepat dan sesekali lari-lari kecil. Dan setelah kita hitung, kita turun hanya dalam waktu 1 jam 5 menit!! Jeng jeng...Horayyy

Dari Pos 1 kemudian kita lanjut naik ojek menuju parkiran mobil seperti perjalanan berangkat. Karena paket trip yang saya ambil juga dengan Spider Rice Field, maka kami lanjut perjalanan kesana. Perjalanan dilanjut dengan menggunakan mobil sampai di Desa Cancar. Kemudian trekking kurang lebih 10 menit, namun agak menanjak.

Spider Rice Field

Sawah di Desa Cancar ini memang disengaja pembagiannya demikian untuk kawasan wisata. Pemberian namanya memang sesuai dengan bentuknya, yaitu menyerupai jaring laba-laba.
Setelah dari Cancar, kita melanjutkan perjalanan kembali ke Labuan Bajo.

Di jalan kita sempat mampir ke Le Cecile karena disana kebetulan menjual Nasi Kolo khas Labuan Bajo. Sebenarnya ini di luar trip, tapi sekalian karena penasaran belum ada coba kuliner khas dari mulai menginjakkan kaki di Labuan Bajo. Le Cecile menjadi tempat yang bagus juga untuk melihat sunset. Nasi Kolo disana harganya lumayan, 100rb. Nasinya dibakar di daun kemudian dimasukkan ke dalam bambu, dan disajikan dengan aneka lauk. Kalau di tempat saya cara masaknya mirip lemang, namun disini ketannya diganti nasi.

Sunset di Le Cecile dan Nasi Loko

Pemandangannya ciamik bukan? Kebetulan Le Cecile selain cafe, mereka juga menyediakan penginapan dan dilengkapi dengan kolam renang. Di NTT penjualan minuman alkohol dilegalkan pemerintah loh.

Setelah puas menikmati sunset dan makan di Le Cecile, kita pun melanjutkan perjalanan kembali ke Hotel. Dan Trip We Rebo pun berakhir.

Oh ya, sebagai tips bagi yang ingin ikut trip ke Wae Rebo biasa dimulai dari jam 5 pagi. Jadi memang sebaiknya mengambil penerbangan hari sebelumnya.