Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Feb 9, 2021

One Day Trip Nusa Penida

Berhubung beban pekerjaan sedang lumayan berturut-turut waktu itu, hasrat merefresh-kan pikiran pun memuncak. Kalu tidak salah saya dinas luar kota selama 1,5 bulan lebih. Setelah searching-searching dan hanya punya waktu weekend, maka saya putuskan short trip ke Bali. Karena sudah beberapa kali ke Bali, saya mulai googling mencari inspirasi untuk menikmati Bali namun dengan pengalaman yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya.  

Jika dulu orang taunya kalau wisata ke Bali itu ya mengunjungi Pantai Sanur, Pantai Jimbaran, Patung GWK, Tanah Lot, Tari Kecak, Seminyak, sekarang sudah banyak bermunculan tempat wisata baru. Alam sekitar semakin tereksplore. Wisata ke Bali kali ini saya mencoba menyeberang ke arah Tenggara Pulau Bali, yaitu Pulau Nusa Penida.

Kebiasaan saya adalah merencanakan liburan secara mendadak haha. Telpon agen trip sana sini pada full. Sampai dengan sore sebelum H-1 keberangkatan ke Bali, saya belum menemukan travel agent yang bisa mandu ke Nusa Penida dong. Kalau orang mungkin sudah panik ya. Tapi karena memang saya ya semenjak semakin sering bepergian, rasanya lebih santai dan ngalir aja. Dalam benak, paling juga nanti dapat haha. Benar, malamnya saya menemukan agen travel yg bisa. Tapi privat trip dan saya harus dibawa menggunakan motor selama di Pulau Nusa Penida. Okelah ini sebuah pengalaman baru karena petualangan-petualangan saya sebelumnya selalu disediakan mobil oleh travel agennya.

Adapun fasilitas yang sudah termasuk dalam privat tripnya adalah:

  • Tiket kapal cepat Pantai Sanur-Pulau Nusa Penida PP,
  • Motor beserta guide merangkat photographer selama di Nusa Penida,
  • Makan siang di Pulau Nusa Penida,
  • Tiket masuk tempat wisata yang telah ditentukan.

Sesuai komunikasi sebelumnya, saya sampai di Pantai Sanur sekitar jam 8 pagi lalu bertemu dengan perwakilan agentnya. Saya diberikan boarding pass kapal penyeberangan Pantai Sanur-Nusa Penida. Lalu saya diarahkan naik ke kapal cepat (saya lupa foto kapalnya waktu itu).  Boarding passnya bisa dikalungkan, jd kecil kemungkinan hilang. Boarding pass ini akan kita tunjukkan lagi nanti ke petugas kapal penyeberangan Nusa Penida-Pantai Sanur. Oh ya, di kapal kita dapat welcome drink berupa air mineral 330 ml.

Nah disini saya sempat salah paham, karena saya menyangka agent tersebut ikut menemani saya menyeberang ke Nusa Penida dan sekaligus guide. Ternyata bukan. Nanti saya akan ketemu guide di dermaga pulau seberang alias guide lokal asli Nusa Penida.

Setelah semua penumpang naik di kapal, kapal berangkat sekitar pukul 8.15 pagi. Sekitar 40 menit kita sudah sampai di Pulau Nusa Penida, yaitu di Dermaga Buyuk. Lalu di Dermaga Buyuk saya sudah ditunggu oleh guide selama di Nusa Penida. Kami segera beranjak meninggalkan dermaga. Setelah sekitar 40 menit berkendara, kami sampai di Kelingking Beach yang menjadi ikon Nusa Penida.

Untuk mencapainya, kita harus menaiki dan menuruni tangga yang cukup membuat lumayan menguras tenaga. Foto di atas adalah foto dari bagian atas Pantai. Sesungguhnya jiwaku sangat ingin turun ke bawah menyentuh pasir putih yang sepertinya sangat menggoda. Namun guidenya sepertinya agak ragu melihat panas matahari ditambah panjangnya tangga yang harus dilalui untuk turun.

Dari Kelingking Beach, kita lanjut perjalanan ke Paluang Cliff. Jaraknya cukup dekat, dapat ditempuh hanya dalam 5 menit berkendara. Di Paluang Cliff, terdapat banyak spot foto. Dari tempat ini, kita bisa melihat laut dari sisi berbeda dengan Kelingking Beach.

 

Dari Paluang Cliff, kami lanjut destinasi berikutnya Angel Billabong. Jarak Paluang Cliff ke Angel Billabong cukup jauh yaitu 30 menit. Jalanan menuju Angel Billabong kurang bagus di beberapa titik. Sampai disana sudah capek duluan. Kami sampai di Angel Billabong menjelang tengah hari. Jadi bisa dibayangkan panasnya naik motor di terik matahari. Udah pasrah kulit bakal belang (bener haha pemulihannya sangat lama 4 bulan setelahnya pas prewed, belangnya belum hilang dong hiks).

Dari Angel Billabong, kami lanjut ke Broken Beach yang juga menjadi salah satu ikon Nusa Penida. Lucu ya namanya (tapi cukup jembatannya aja yang broken yak, hati yang baca ga usah *eh).  Jarak Broken Beach hanya 3 menit dari Angel Billabong. Pantai ini berada di tengah tebing sekitar 100 m. Airnya berasal dari air laut yang masuk ke dalam terowongan di tebing. Menurut infonya, lubang terbentuk akibat abrasi air laut sehingga disebut Pasir Uug/Pantai Rusak alias Broken Beach. Ketika di pantai ini, kita harus hati-hati karena jalanannya bebatuan semua.

 

Dari Broken Beach, kami mampir makan siang. Tempat makan waktu itu namanya Sri Semirang. Sepanjang perjalanan tidak banyak pilihan tempat makan. Tapi menurut saya memang tempat makan ini yang cukup ramai dan bersih. Makan siang sudah termasuk dalam trip. Menu tidak ditentukan, kita bebas memilih 1 jenis lauk, 1 jenis sayur, 1 jenis jus atau minuman lain. Sayangnya waktu itu saya lupa mengabadikan foto makanannya.

Setelah perut terisi, kami lanjut ke destinasi terakhir yaitu Crystal Bay. Disini saya menikmati pemandangan dulu sejenak sambal menunggu matahari agak memudar. Lalu saya snorkelling. Namun untuk alat snorkelling bukan bagian dari fasilitas trip, alias sewa sendiri. Cukup ramai yang snorkelling atau sekedar bersantai menikmati pemandangan. Sesuai namanya bahwa airnya memang bening. Oh ya, disana tersedia juga ruang ganti. Jadi jangan khawatir bagi yang ingin snorkelling. (Maapkeun di postingan kali ini banyakan nampang, entah kenapa kemarin foto pemandangan tidak banyak di hp).

Sekitar jam 4 sore kami meninggalkan Crytal Bay dan berangkat kembali menuju Dermaga Buyuh. Jam 5 tepat kapal cepat berangkat dari Dermaga Buyuh menuju Pantai Sanur. Satu jam kemudian kami sudah sampai di Pantai Sanur, dan trip selesai.

Tips:

Wisata di Nusa Penida ada banyak. Jika ingin berkunjung dalam 1 hari, silahkan dipilih Nusa Penida Timur atau Nusa Penida Barat. Karena letaknya masing-masing cukup jauh. Jika ingin semuanya, minimal meluangkan waktu 2 hari.
Oh ya, cuaca di Nusa Penida cukup panas, silahkan persiapkan sunblock sekalipun tidak berenang.

Dec 17, 2019

Explore Kota Labuan Bajo

Sesuai janji saya pada tulisan sebelumnya, kali ini saya akan membagikan pengalaman saya mengexplore kota Labuan Bajo. Karena trip Waerebo dimulainya subuh, maka saya ambil penerbangan H-1.  Saya ambil penerbangan pagi dari Makassar dan mendarat di Bandar Udara Komodo sekitar pukul 08.40 waktu setempat. Bagaimana penampilan bandaranya? Okelah ya.. Namun sedikit kurangnya menurut saya, fasilitas tempat makan/nongkrong masih agak kurang untuk bandara internasional. Apalagi Labuan Bajo salah satu destinasi wisata yang populer. Ketika menunggu dijemput, hanya ada 1 tempat minum di dekat area kedatangan, itupun kecil.

                                       

Kemudian dijemput oleh agent tour yg akan mendampingi privat trip Waerebo dan diantar ke salah satu hotel yang sudah saya pesan sebelumnya. Penginapan ini di luar paket privat trip Waerebo. Saya sengaja memilih kamar dengan sea view. Jam masih menunjukkan pukul 10 pagi ketika kami ampai di hotel, namun petugasnya cukup ramah dan mengizinkan early check in. Bagaimana view dari kamarnya?

                

Fasilitas penginapannya standar ada air mineral kemasan, toileteries saya lupa ada atau tidak. Namun plusnya adalah tersedia balkon dan kursi serta meja kecil untuk melihat pantai di kejauhan. Sebelumnya saya sudah baca pengalaman orang lain bahwa air disana cukup berkapur. Jadi saya sudah berjaga-jaga memang bawa stok tissue basah. Selama trip di Labuan Bajo, selesai mandi saya selalu melap badan menggunakan tissue basah. Kemudian wajah, saya bilas terakhir pakai air minum. 

Jika orang mungkin akan memilih beristirahat, beda halnya dengan yang menulis cerita ini hehe.
Setelah menaruh barang ke kamar dan rapi-rapi barang sejenak, tangan langsung lincah searching2 rekomendasi wisata dalam kota. Sebelum explore, perut sudah minta diisi. Awalnya saya ingin mencoba kuliner khas Labuan Bajo, namun karena kurang banyak info yang saya temukan, akhirnya mencoba ke Medirterraneo Restaurant and Lounge. Beberapa orang di internet merekomendasikan resto ini jika ingin mencoba menu  western dengan view dan tempak lumayan oke di Labuan Bajo. Oh ya, saya baru nemu makanan khas setelah trip Wae Rebo.

Kaki sudah melangkah, kemudian teringat ini bukan kota besar yang sudah ada grab/gocar.. cari2 info di internet, ada gojek lokal..setelah instal, eh baru tau ternyata itu hanya di kota Floresnya. Akhirnya tanya info sewa motor ke tour agent (apa penjaga hotel saya lupa). Dapatlah motor sewaan dengan tarif Rp75rb/setengah hari lengkap dengan helm dan jas hujan. Tanpa berlama-lama, cus lah ke Medirterraneo dengan bekal Google Map. Sampai di tempatnya, desain tempatnya memang lumayan oke. Beberapa pengunjung lain yang sedang disana adalah orang luar semua.


Rekomendasi menu disana adalah menu western. Saya pesan menu western walaupun sebenarnya ada menu indo yang familiar juga. Namun entah kenapa menu pesanan waktu itu kurang pas di perut. Tapi tidak apalah mencoba.

Setelah selesai makan, terlebih dahulu mampir ke toko oleh-oleh yaitu Exotic Oleh-Oleh untuk membeli sandal jepit. Kebetulan sandal jepit saya ketinggalan (apa sengaja tidak dibawa ya, lupa). Kenapa tidak ke warung?  Memang ingin sekalian punya sandal khas sana (walaupun akhirnya sandal itu hanya berumur beberapa hari karena dipakai mendaki bukit depan Kampung Waerebo pagi hari). Penjelajahan dimulai ke Pantai Wae Cicu. Pantai ini terdapat di dalam kawasan sebuah hotel. Waktu searching sebelum ke Labuan Bajo, awalnya saya ingin menginap di hotel ini. Namun ada review pengunjung,  petugas kurang ramah dan cukup merepotkan angkut2 koper ke kamar yang terdapat di bagian atas, akhirnya saya mengurungkan niat. Di antai ini terdapat dermaga dan pemandangan lumayan banyak kapal yang sedang berlayar. Karena waktu sudah mendekati sunset, di pantai ini hanya sekitar 15 menit.

                  

Berdasarkan hasil googling, tempat terbaik untuk menikmati sunset di Labuan Bajo adalah di Bukit Silvia. Maka perjalanan dilanjut sekitar 10 menit dari Pantai Wae Cicu. Untuk mencapai Bukit Wae Cicu, kita masih perlu trekking sekitar 20-30 menit dari parkiran motor. Siap-siap bawa sandal atau sepatu yang memang nyaman untuk dibawa jalan ya. Jalur trekkingnya lumayanlah, itung2 untuk pemanasan sebelum trekking panjang ke Wae Rebo keesokan hari. Bagaimana view dari Bukit Silvia nya? Cantik ga? Ehhh.. bagus ga maksudnya hehe


Ternyata menikmati sunset di Bukit Silvia lumayan terkenal, buktinya selama kita disana lumayan banyak wisatawan luar yang ikut menkmati sunset disana. Selain Bukit Silvia, ada juga beberapa bukit yang saling berdekatan untuk menikmati view pantai dan sunset. Ada Bukit Teletubies dan Bukit Cinta.

Setelah menikmati view sunset di Bukit Silvia, kaki pun mulai bergegas turun menuju parkiran. Tiba-tiba ingin minum air kelapa. Searching-searching tempat tongkrongan yang lumayan oke, ketemulah Le Pirate. Nama ini tentu bagi sebagian orang sudah tidak asing karena ada penginapannya juga di beberapa kota. Di internet, banyak orang yang merekomendasikan cafe ini. Beberapa pengunjung dalam reviewnya menyatakan bahwa pelayan cafe lebih mengutamakan wisatawan luar. Namun, hal ini terpatahkan berdasarkan pengalaman saya. Pesanan saya lumayan cepat dapat (saya tidak ada tampang seperti wisatawan luar kan ya hehe).  Oh ya, selama kurang lebih 2jam berada di Cafe Le Pirate, pengunjungnya semua adalah wisatawan luar negeri dong. Menu ya menu internasional lah ya pastinya.

                                      

Setelah selesai nongkrong di Le Pirate, perjalanan di lanjut ke Dermaga Kampung Ujung. Menurut mbah google, disana tempat wisata kuliner. Jadi harapan saya juga akan menemukan air kelapa. Entah kenapa dari siangnya saya pengen air kelapa, namun tidak ketemu karena sudah pada tutup.

                  

Fyi, Dermaga Kampung Ujung pada siang hari menjadi tempat bertemunya tour/travel dengan wisatawan yang akan ikut trip atau nama ngetren nya adalah meeting point. Sedangkan pada malam hari tempat ini akan berubah menjadi kawasan kuliner seafood.

Waktu sudah mendekati tengah malam, explore untuk dalam kota hari pertama harus diakhiri. Berhubung besok subuh trip Wae Rebo sudah dimulai.

Oh ya sebagai tips bagi yang ingin ke Labuan Bajo, sedia stok tissue basah karena air cukup berkapur dan sun block karena cuaca yang lumayan menyengat. Beberapan tempat juga menyediakan persewaan motor Rp100-150rb/hari. Semoga liburannya menyenangkan..

Apr 26, 2019

Wae Rebo: Dua Hari tanpa Sinyal

Ada yang pernah dengar Wae Rebo? Mungkin nama desa ini masih belum terlalu familiar di telinga wisatawan domestik. Hal ini berbeda dengan wisatawan internasional, bahkan sudah banyak yang berkunjung kesana. Memang tidak mengherankan jika kita lebih familiar dengan tempat wisata negara lain, padahal negara kita sendiri memiliki banyak tempat wisata yang bahkan belum habis kita kunjungi.  Wae Rebo salah satu negeri di atas awan, selain Lolai Toraja dan Dieng yang sudah sangat familiar. Desa ini terletak di Kabupaten Manggarai Raya atau Manggarai Tengah, Nusa Tenggara Timur. Desa ini mendapat penghargaan tertinggi untuk kategori warisan budaya Asia-Pasifik loh dari UNESCO. Keren kan.

Wae Rebo dapat ditempuh dari berbagai rute. Disini saya kebetulan lewat Labuan Bajo. Perjalanan kesana ada berbagai alternatif pilihan dengan menyesuaikan budget masing-masing. Kalau tidak  terbiasa me-arrange perjalanan, ada pilihan privat dan opentrip dimana kita terima jadi urusan rute, transportasi, akomodasi, dan dokumentasi tinggal ikut instruksi tour guide. Namun kalau mau lebih hemat, bisa backpacker. Pengalaman kesana ikut privat trip 2d 1n biaya 2,5jt/peserta, jadwal sesuai request kita. Kalau opentrip kebanyakan 1,5jt-1,7jt/peserta, kita hanya bisa ikut jadwal yang sudah ada. Backpacker kemarin kebetulan ada kenalan ketemu disana cerita hanya habis 1,4jt untuk 2 org, namun mereka naik motor  dan menginap di rumah warga. Hemat sekali kan. 

Pengalaman privat trip, perjalanan dimulai dari penjemputan dari hotel jam 5 subuh. Terlalu subuh? Ya biar kita mendakinya tidak kemalaman. Dilanjut perjalanan darat selama 6 jam ke Desa Denge, kemudian kita istirahat makan siang. Nah, ini ada tempat makan siang yang menarik di tepi sawah. Makan dengan view bagus membuat selera makan naik. Hanya saya lupa nama tempat makannya.


Tempat Makan di Pinggir Sawah (Desa Denge)

Di perjalanan Labuan Bajo ke Desa Dintor, kita akan dapat melihat Pulau Mules atau Moles yang artinya pulau cantik. Penamaan ini karena memang bentuk pulaunya seperti seorang putri yang sedang tidur dengan posisi menghadap ke langit.

Pulau Mules atau Moles

Di sepanjang perjalanan juga kita akan berpapasan dengan kendaraan penumpang lokal, yakni truk yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi kendaraan penumpang. Truk diberi papan untuk tempat duduk penumpang sekaligus pembatas. Bagian bawah papan tempat duduk akan digunakan untuk tempat bahan bangunan atau belanjaan penumpang. Sayang kemarin tidak foto.

Batas yang bisa dilalui mobil adalah sampai di Desa Denge. Kemudian dari sana perjalanan dilanjut dengan menaiki ojek sekitar 15 menit untuk sampai ke Pos 1 Pendakian Wae Rebo. Sekedar info untuk yang berencana backpacker, kemarin sempat nanya ke tuang ojek biayanya 50rb sekali jalan. Di batas pemberhentian ojek, ada penyewaan tongkat bagi yang kakinya kurang kuat. Kalau tidak salah Rp10.000. Namun tongkat ini akan dikembalikan ketika kita turun nanti.  

Di Pos 1, kita akan dapat membaca pesan masyarakat lokal Wae Rebo sebagai tips bagi  para pengunjung. Beberapa diantaranya: kelola sampah, hormati alam, lindungi satwa liar dan habitatnya, jaga keselamatan, hati-hati, berjalan, dan hormati warga lokal. Oh ya, setiap tulisan termasuk Buku Pengenalan Wae Rebo dibuat dalam 2 bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Inggris. Hal ini mengingat pengunjung sudah banyak dari mancanegara.

Pos 1. Wae Lomba

Perjalanan trekking menuju Desa Wae Rebo sejauh 7 km rata-rata dapat ditempuh dalam 2-4 jam, tergantung kecepatan pengunjung. Perjalanan trekking dimulai dari Pos 1 dengan waktu tempuh ke Pos 2 sekitar 1-1,5 jam. Selama perjalanan ini sempat minta beberapa kali berhenti istirahat, maklum bukan pendaki gunung hehe.

Rute trekking yang kita lalui ini juga adalah rute yang dilalui masyarakat desa. Jadi tidak jarang dalam perjalanan kita berpapasan dengan masyarakat asli Wae Rebo. Jalur mereka memang hanya rute tersebut. Mereka membawa belanja, hasil pertanian, dan segala macamnya dengan cara dipikul. Termasuk solar bahan bakar genset dipikul karena Wae Rebo belum dialiri listrik juga. Salut.
Saya juga terkesan dengan penduduk asli desa. Semua yang berpapasan dengan kami akan menyapa “Selamat sore,Pak,Bu..” dengan senyum. Dan bahkan tidak jarang mereka juga menanyakan “Dari mana, Pak/Bu?”

Kalau dipikir, kenapa Dana Desanya tidak digunakan untuk perlahan membangun jalan ke desa supaya bisa dilalui kendaraan ya. Namun berdasarkan keterangan guide, ternyata memang disengaja untuk menjaga keaslian Desa.

Pos 2.  Poco Roko
   
Sampai di Pos 2, seakan setengah perjalanan sudah terlewati. Di Pos 2 kita sudah bisa melihat awan di bawah kita. Dari Pos 2 ke Pos 3 kita dapat tempuh sekitar 1-2 jam. Memang sesuatu yang indah dan berharga biasa butuh perjuangan lebih iya kan. Dijawab saja iya haha.

Seperti kata pepatah, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” di Pos 3 terdapat Pesan dari Masyarakat Kampung Wae Rebo buat pengunjung yang berisi  rule atau aturan bagi pengunjung. Salah satu yang menarik adalah “bantu mendidik anak kami dengan tidak memberikan sesuatu (permen,uang, mainan, atau kue) tanpa seijin orang tua mereka.” Menurut saya ini sangat bagus untuk membentuk mental dan mengajarkan anak tidak pamrih ketika memberikan bantuan kepada wisatawan. Karena hal ini salah satu tantangan tempat wisata di Indonesia yang terkadang membuat wisatawan kurang nyaman.

  
Pos 3. Nampe Bakok (Rumah Kasih Ibu)

Jarak dari Pos 3 ke Kampung Wae Rebo hanya 5 menit. Ketika hendak melanjutkan perjalanan dari Pos 3 ke Kampung, kita terlebih dahulu membunyikan alat tabuh bamboo yang disediakan di Rumah Kasih Ibu. Hal ini sebagai penanda datangnya tamu.

Setiap pengunjung yang baru tiba di Kampung Wae Rebo, harus terlebih dahulu ke rumah Gendang untuk mengikuti Upacara penghormatan leluhur (Waelu’u). Setelah ikut upacara baru diperkenankan beraktivitas di kampung. Upacara ini dimaksudkan bahwa pengunjung sudah diperkenalkan dan telah diterima, sehingga masyarakat tidak akan lagi bertanya siapa ketika berpapasan dengan pengunjung. Upacara ini juga dimaksudkan sebagai penghormatan pengunjung bagi para leluhur Wae Rebo. Ketika upacara berlangsung, tidak diperkenankan adanya dokumentasi. Konon pernah ada kejadian wisatawan asing yang sembunyi-sembunyi mengambil dokumentasi. Setelah dicek kamera keesokan harinya, seluruh gambar dan video upacara hilang alias tidak ada hiiii.

Rumah Gendang

Setelah dari Rumah Gendang, kita akan di arahkan ke Niang/ rumah kerucut lainnya sekaligus tempat beristirahat. Disini kita akan langsung disuguhkan kopi khas Flores. Bagi yang tidak kuat minum banyak, jangan sampe ketagihan ya.

Suguhan Kopi Flores


Di niang tepat kita beristirahat, terdapat Buku Pengenalan Wae Rebo. Buku ini memuat sejarah Wae Rebo, peta kampung, bagian-bagian niang/rumah kerucut beserta kegunaan, dan hasil pertanian masyarakat Wae Rebo. Dari buku, dapat kita ketahui sejarah singkat Wae Rebo. Masyarakat Wae Rebo meyakini bahwa nenek moyang mereka bernama Empo Maro, seseorang yang berketurunan Minangkabau. Empo Maro dan keluarganya merantau mengarungi lautan dan mendarat di Labuan Bajo. Kemudian  melakukan perjalanan darat dan berpindah-pindah sampai suatu saat melihat ada kebulan asap dari arah gunung. Hal tersebut membuatnya penasaran dan mendatangi kampung tersebut. Empu Maro juga mendapat pesan melalui mimpi untuk hidup dan menghabiskan waktunya di Kampung yang sekarang kita kenal sebagai Wae Rebo, dimana sekarang keturunannya tinggal.

Di Kampung Wae Rebo, wisawatan akan tidur di satu niang. Masing-masing orang diberikan selimut, bantal dan kasur tipis yang sudah terpasang di bawah karpet masing-masing. Penasaran bentuknya? Begini tampilannya.

Tempat Tidur Pengunjung

Setiap makan pun dilakukan bersama. Hal ini membuat wisatawan semakin akrab dan sesuai dengan budaya negara kita.

Pengunjung Makan Malam Bersama

Di Wae Rebo kita menggunakan gadget/ hp palingan untuk foto. Disana tidak ada sinyal, otomatis tidak ada telepon dan internet. Karena keterbatasan sumber yang hanya menggunakan genset, kita hanya bisa charger gadget dari sore ke malam. Pagi alirannyanya sudah dimatikan. Wisatawan lebih memilih untuk saling bercengkrama, berbagi cerita, melihat keindahan dan budaya kampung. Kita tidak akan ada menemui orang yang sibuk dengan gadget sendiri.

Karena sampai di Kampung Wae Rebo sudah sore, jadi hanya sempat ambil foto malam sebelum tidur. Kebetulan bulan lagi tampak dan banyak bintang bertaburan. Menambah indah pandangan malam.

Pemandangan Wae Rebo malam hari

Setelah beristirahat, subuh biasanya wisatawan akan bangun cepat dan berburu sunrise. Begitu pagi menjelang, saatnya berburu foto. Bagaimana hasilnya? This is it.
Kampung Wae Rebo

Keren?!  Perjuangan pendakian sebelumnya terbayarkan dengan pemandangan yang menyejukkan mata ini. Kalau diliat secara keseluruhan, Kampung Wae Rebo terdiri dari 7 niang atau rumah kerucut. Orang sering menyebut kampung ini dengan Mbaru Niang.

Sekedar informasi, Desa Waerebo salah salah satu desa tertinggi di ndonesia, terletak di 1.200 mdpl loh. Jadi memang wajar cuaca disana agak dingin. Bagi yang ingin kesana jangan lupa bawa jaket dan kaos kaki ya.

Setelah puas berfoto, kemudian wisatawan akan dipanggil untuk sarapan bersama dan berkemas untuk pulang.

Jika perjalanan berangkatnya kami tempuh dalam 2 jam, perjalanan pulang lebih cepat. Record tour guide kami paling cepat turun sampai ke Pos 1 adalah 1,5 jam. Dan kali ini saya bilang kita harus  buat record baru. Ketika berangkat kami istirahat setiap 15 menit, ketika perjalanan pulang hanya istirahat 2 kali, yaitu di Pos 3 dan Pos 2. Total waktu kita istirahat sekitar 5 menit dan foto-foto 5 menit. Kita turun dengan jalan cepat dan sesekali lari-lari kecil. Dan setelah kita hitung, kita turun hanya dalam waktu 1 jam 5 menit!! Jeng jeng...Horayyy

Dari Pos 1 kemudian kita lanjut naik ojek menuju parkiran mobil seperti perjalanan berangkat. Karena paket trip yang saya ambil juga dengan Spider Rice Field, maka kami lanjut perjalanan kesana. Perjalanan dilanjut dengan menggunakan mobil sampai di Desa Cancar. Kemudian trekking kurang lebih 10 menit, namun agak menanjak.

Spider Rice Field

Sawah di Desa Cancar ini memang disengaja pembagiannya demikian untuk kawasan wisata. Pemberian namanya memang sesuai dengan bentuknya, yaitu menyerupai jaring laba-laba.
Setelah dari Cancar, kita melanjutkan perjalanan kembali ke Labuan Bajo.

Di jalan kita sempat mampir ke Le Cecile karena disana kebetulan menjual Nasi Kolo khas Labuan Bajo. Sebenarnya ini di luar trip, tapi sekalian karena penasaran belum ada coba kuliner khas dari mulai menginjakkan kaki di Labuan Bajo. Le Cecile menjadi tempat yang bagus juga untuk melihat sunset. Nasi Kolo disana harganya lumayan, 100rb. Nasinya dibakar di daun kemudian dimasukkan ke dalam bambu, dan disajikan dengan aneka lauk. Kalau di tempat saya cara masaknya mirip lemang, namun disini ketannya diganti nasi.

Sunset di Le Cecile dan Nasi Loko

Pemandangannya ciamik bukan? Kebetulan Le Cecile selain cafe, mereka juga menyediakan penginapan dan dilengkapi dengan kolam renang. Di NTT penjualan minuman alkohol dilegalkan pemerintah loh.

Setelah puas menikmati sunset dan makan di Le Cecile, kita pun melanjutkan perjalanan kembali ke Hotel. Dan Trip We Rebo pun berakhir.

Oh ya, sebagai tips bagi yang ingin ikut trip ke Wae Rebo biasa dimulai dari jam 5 pagi. Jadi memang sebaiknya mengambil penerbangan hari sebelumnya.